๐Ÿ’ก Nasihat Untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Gabung WAGrup dan Sosmed Permata Sunnah: Silakan klik http://kontakk.com/@permatasunnah

๐Ÿ’Œ NASIHAT UNTUK RASULNYA

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus Ad-Daari radhiallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

ุงَู„ุฏِّูŠْู†ُ ุงู„ู†َّุตِูŠْุญَุฉُ، ุงู„ุฏِّูŠْู†ُ ุงู„ู†َّุตِูŠْุญَุฉُ، ุงู„ุฏِّูŠْู†ُ ุงู„ู†َّุตِูŠْุญَุฉُ، ู‚َุงู„ُูˆْุง: ู„ِู…َู†ْ ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ؟ ู‚َุงู„َ: ِู„ู„ู‡ِ، ูˆَู„ِูƒِุชَุงุจِู‡ِ، ูˆَู„ِุฑَุณُูˆْู„ِู‡ِ، ูˆَِู„ุฃَุฆِู…َّุฉِ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุฃَูˆْ ู„ِู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ، ูˆَุนَุงู…َّุชِู‡ِู…ْ

"Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat." Mereka (para sahabat) bertanya: "Untuk siapa, wahai Rasulullah?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya." [HR. Muslim]

Nasihat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Al-Qurthubi tatkala beliau menafsirkan ayat:

ุฅِุฐَุง ู†َุตَุญُูˆุง ู„ِู„َّู‡ِ ูˆَุฑَุณُูˆู„ِู‡ِ

"Jika mereka menunaikan nasihat untuk Allah dan RasulNya." [QS. At-Taubah: 91]

Beliau berkata: "Nasihat untuk RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti mempercayai kenabiannya, senantiasa menaatinya di setiap perintah dan larangannya, mencintai siapa yang mencintainya serta memusuhi siapa yang memusuhinya, menghormatinya, mencintainya dan mencintai keluarganya, mengagungkannya serta mengagungkan sunnah-sunnahnya dengan cara menghidupkannya tatkala dia padam, mencari dan berusaha memahaminya, melindungi, menyebarkan dan mengajak umat manusia untuk kembali kepadanya, serta berusaha untuk berakhlak dengan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia." [Tafsir Al-Qurthubi, VIII/210]

Jadi, nasihat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup berbagai hal, antara lain:

1. Meyakini bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allah ta’ala, dan beliau adalah Rasul yang jujur dan terpercaya, tidak berdusta maupun didustakan. Juga beriman bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang paling akhir yang merupakan penutup para nabi. Setiap ada yang mengaku-ngaku sebagai Nabi sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dusta, palsu dan batil. [Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal: 137]

2. Menaati perintahnya dan menjauhi larangan. Allah menegaskan,

ูˆู…ุง ุขุชุงูƒู… ุงู„ุฑุณูˆู„ ูุฎุฐูˆู‡ ูˆَู…َุง ู†َู‡َุงูƒُู…ْ ุนَู†ْู‡ُ ูَุงู†ْุชَู‡ُูˆุง

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” [QS. Al-Hasyr: 7]

3. Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan, baik itu berupa berita-berita yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, karena hal itu adalah wahyu yang bersumber dari Allah ta’ala. Di dalam Al-Quran,

ูˆَู…َุง ูŠَู†ْุทِู‚ُ ุนَู†ِ ุงู„ْู‡َูˆَู‰. ุฅِู†ْ ู‡ُูˆَ ุฅِู„َّุง ูˆَุญْูŠٌ ูŠُูˆุญَู‰

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. An-Najm: 3-4]

4. Beribadah kepada Allah dengan tata cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ditambah-tambahi ataupun dikurangi. Allah ta’ala berfirman,

 ู„َู‚َุฏْ ูƒَุงู†َ ู„َูƒُู…ْ ูِูŠ ุฑَุณُูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃุณูˆุฉ ุญุณู†ุฉِ 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” [QS. Al-Ahzab: 21]

Juga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan: “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” [HR. Muslim, III/1344 no. 1718]

5. Meyakini bahwa apa yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setingkat dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dari segi keharusan untuk mengamalkannya, karena apa yang disebutkan di dalam As-Sunnah, serupa dengan apa yang disebutkan di dalam Al-Quran (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hal: 138). Allah ta’ala berfirman,

ู…َู†ْ ูŠُุทِุนِ ุงู„ุฑَّุณُูˆู„َ ูَู‚َุฏْ ุฃَุทَุงุนَ ุงู„ู„َّู‡َ

“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” [QS. An-Nisa: 80]

6. Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Dengan cara menghapal, memahami dan mengamalkan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menghidupkan sunnahnya serta menyebarkannya di kalangan masyarakat.

7. Mendahulukan cinta kepadanya dari cinta kepada selainnya.

Suatu hari Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri!” Nabi pun menyahut, “Tidak demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri!” Maka Umar berkata, “Adapun sekarang demi Allah engkau betul-betul lebih aku cintai dari diriku sendiri!” Nabi pun bersabda, “Sekarang baru (engkau benar-benar mencintaiku).” [HR. Bukhari no. 6632]

Akan tetapi jangan sampai dipahami bahwa cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membawa kita untuk bersikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga mengangkat kedudukan beliau melebihi kedudukan yang Allah Ta’ala karuniakan kepada NabiNya. Sebagaimana halnya perbuatan sebagian orang yang mengarahkan ibadah-ibadah yang seharusnya dipersembahkan untuk Allah Ta’ala, dia persembahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contohnya: beristighatsah dan memohon kepadanya, meyakini bahwa beliau mengetahui semua perkara-perkara yang ghaib, dan lain sebagainya. Jauh-jauh hari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam sikap ekstrim ini,

ู„ุง ุชุทุฑูˆู†ูŠ ูƒู…ุง ุฃุทุฑุช ุงู„ู†ุตุงุฑู‰ ุงุจู† ู…ุฑูŠู…, ุฅู†ู…ุง ุฃู†ุง ุนุจุฏู‡, ูู‚ูˆู„ูˆุง: ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡

“Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani terlalu berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hambaNya, maka ucapkanlah (bahwa aku): hamba Allah dan RasulNya.” [HR. Bukhari no. 3445]

8. Termasuk tanda mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mencintai orang-orang yang dicintainya. Mereka antara lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya, serta setiap orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Juga masih dalam kerangka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah kewajiban untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi orang yang menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah. [Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq Al-Mushthafa, 2/575, untuk pembahasan lebih lanjut silakan lihat: Huquq An-Nabi Ala Ummatihi, I/359-361]

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…… ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“ฐ Sumber: Artikel Muslim.Or.Id

๐Ÿ–Š Penulis: Ustadz Abdullah Zaen hafidzahullah

----------••♛♛♛••----------

๐Ÿ’Ž Permata Sunnah
๐ŸŒ Web: http://permatasunnah.com

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah Permata Sunnah
๐Ÿง Bank Negara Indonesia (BNI Syariah)
| No. Rek: 0617861121
| An. Dedi Budika
| Kode Bank 427
๐Ÿ“ฑKonfirmasi: Pilih salah satu
• Silakan Klik http://bit.ly/2DonasiPermataSunnah
• Pesan 0822-9386-8892 (WA)

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐Ÿ”ฅ Berdusta Atas Nama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Hukum Warisan Dari Orang Tua Non Muslim

Apa Tujuan Diciptakan Manusia?